Tampilkan postingan dengan label Gravity. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gravity. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 Agustus 2015
Rabu, 12 Agustus 2015
Metode Gaya Berat/Gravity untuk Identifikasi Cekungan dalam Eksplorasi Minyak dan Gas Bumi
Survey Gravity banyak digunakan untuk eksplorasi minyak dan gas Bumi.Kendala yang dihadapi dari survey seismik ketika harus memetakan basement yang kedalamanya sering tidak bisa diprofilekan oleh data seismik. gravity sendiri memetakan basement dengan menganggap densitas batuan diatasnya lebih rendah daripada densitas basement itu sendiri,memang dapat dibedakan dengan data gravity melalui perbedaan densitasnya. Pemodelan basement dan formasi diatasnya bisa didekati dengan pendekatan formasi yang ada di atasnya dan menggunakan data regional untuk densitas yang sudah dilakukan melalui sampel bor.
Pemodelan Gravity secara lateral akan menggambarkan bentuk subsurface dari basement dan tiap-tiap formasi sehingga area sinklin dan area antiklin di bawah permukaan bisa terlihat sehingga idenfitikasi source rock dan kemenerusanya bisa di gambarkan. Pendekatan model ini bisa didukung dengan data tambahan seperti data well dan lainya untuk meyakinkan koreksi yang di dapat dari inversi data gravity ketika menentukan kedalaman dan ketebalan dari tiap formasi.
Pemodelan data Gravity dilakukan untuk mengetahui hal-hal berikut:
- Distribusi Densitas dari Topografi Bawah Permukaan
- Memetakan daerah sinklin dan antiklin bawa permukaan pada masing-masing formasi dalam skala stratigrafi
- Delineasi Struktur Geologi Bawah Permukaan seperti pemodelan sesar dan pemodelan stratigrafi
- Memetakan Model Basement
- Penentuan Boundary Daerah Prospek dengan kontrol data sumur
- Pemodelan tiap-tiap formasi 2-D dan 3-D dengan data pendukung seperti data seismik, logging dan stratigrafi
- Dll
Beberapa Pengalaman Gravity Survey dan Modeling Untuk Oil and Gas
Email: seisxplore@gmail.com
Wordpress: seisxploresurvey.wordpress.com
HP: 082114266358
Rabu, 11 Desember 2013
Gravity Kalimantan
Selasa, 01 Oktober 2013
Teori Tentang Metode Gravity
TEORI UMUM
Teori
yang mendasari metoda gayaberat adalah hukum Newton mengenai gaya tarik antara
dua massa benda. Hukum Newton menyatakan bahwa besarnya gaya tarik menarik
antara dua benda yang mempunyai masa m1 dan m2 dengan jarak r dinyatakan sebagai berikut:
Gaya persatuan masa dari suatu partikel m1 yang mempunyai jarak r dari m2 disebut medan gayaberat dari partikel m1 dapat dinyatakan sebagai berikut:
karena medan ini bersifat konservatif, maka medan gaya berat dapat dinyatakan sebagai gradien dari suatu fungsi potensial skalar U(r), dapat ditulis sebagai berikut:
Potensial gaya berat disuatu titik pada ruang bersifat penjumlahan, sedangkan potensial gaya berat dari distribuasi massa yang kontinu disuatu titik di luar distribusi massa tersebut dapat diselesaikan dalam bentuk integral.
gambar 1 Potensial tiga dimensi(Telford et al., 1967)
Jika massa yang terdistribusi kontinu mempunyai rapat masa p(ro) di dalam volume(v) maka potensial disuatu titip P diluar V adalah:
Jika integral volume diambil untuk seluruh bumi, maka didapatkan potensial gaya berat di ruang bebas, sedangkan medan gaya berat diperoleh dengan mendeferensialkan potensial tersebut.
Medan gaya berat yang disebabkan oleh bumi disebut juga percepatan gaya berat atau percepatan jatuh bebas, dengan simbol g. Nilai medan gaya berat dapat dinyatakan sebagai berikut:
Dari persamaan di atas, diperoleh nilai percepatan gaya berat g di permukaan bumi yang bervariasi. Percepatan gaya berat bumi dipengaruhi oleh distribusi massa di bawah permukaan yang ditunjukan oleh fungsi densitas dan bentuk bumi yang sebenarnya, yang ditunjukan oleh batas integral di atas. Dalam satuan internasional (SI), pengukuran gaya berat digunakan satuan gal. Untuk konversi percepatan gaya berat digunakan:
Nilai g tergantung pada bentuk bumi sebenarnya dan volume distribusi massa di dalam bumi yang dinyatakan sebagai fungsi 

Lihat tentang gaya berat: http://www.youtube.com/watch?v=9P6GEpxFtSY
Dalam penelitian survey gaya berat secara garis besar
penyelidikan dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu tahap pengukuran lapangan,
tahap pemrosesan data dan interpretasi terhadap data yang telah diproses.
PENGUKURAN LAPANGAN
Pengukuran metoda gayaberat
dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu: penentuan titik ikat dan pengukuran
titik-titik gayaberat. Sebelum survei
dilakukan perlu menentukan terlebih dahulu base
station, biasanya dipilih pada lokasi yang cukup stabil, mudah dikenal dan
dijangkau. Base station jumlahnya bisa lebih dari satu tergantung
dari keadaan lapangan. Masing-masing base station sebaiknya dijelaskan secara
cermat dan terperinci meliputi posisi, nama tempat, skala dan petunjuk
arah. Base station yang baru akan diturunkan dari nilai gayaberat g_obs yang mengacu dan
terikat pada Titik Tinggi Geodesi (TTG) yang terletak di daerah penelitian. TTG tersebut pada dasarnya telah terikat
dengan jaringan Gayaberat Internasional atau ”International Gravity Standardization Net”, (IGSN 71).
Pengukuran data lapangan meliputi pembacaan gravity meter juga penentuan posisi, waktu dan pembacaan barometer serta suhu. Pengukuran gayaberat pada penelitian ini menggunakan alat gravity meter LaCoste & Romberg type G.525 berketelitian 0,03 mGal/hari atau ± 0,1 mGal/bulan. Penentuan posisi dan waktu menggunakan Global Positioning System (GPS) Garmin, sedangkan pengukuran ketinggian menggunakan Barometer Aneroid Precission dan termometer. Pengukuran pada titik-titik survei dilakukan dengan metode kitaran/looping dengan pola A-B-C-D-A, dengan ‘A’ adalah salah satu cell center (CC) yang merupakan base station setempat. Jarak antar titik pengukuran pada keadaan normal ± 5 km, tergantung dari medan yang akan diukur dengan pertimbangan berdasarkan pada kecenderungan (trend) geologi di daerah survei.
Metode kitaran/looping diharapkan untuk menghilangkan kesalahan yang disebabkan oleh pergeseran pembacaan gravity meter. Metode ini muncul dikarenakan alat yang digunakan selama melakukan pengukuran akan mengalami guncangan, sehingga menyebabkan bergesernya pembacaan titik nol pada alat tersebut.
Pengukuran data lapangan meliputi pembacaan gravity meter juga penentuan posisi, waktu dan pembacaan barometer serta suhu. Pengukuran gayaberat pada penelitian ini menggunakan alat gravity meter LaCoste & Romberg type G.525 berketelitian 0,03 mGal/hari atau ± 0,1 mGal/bulan. Penentuan posisi dan waktu menggunakan Global Positioning System (GPS) Garmin, sedangkan pengukuran ketinggian menggunakan Barometer Aneroid Precission dan termometer. Pengukuran pada titik-titik survei dilakukan dengan metode kitaran/looping dengan pola A-B-C-D-A, dengan ‘A’ adalah salah satu cell center (CC) yang merupakan base station setempat. Jarak antar titik pengukuran pada keadaan normal ± 5 km, tergantung dari medan yang akan diukur dengan pertimbangan berdasarkan pada kecenderungan (trend) geologi di daerah survei.
Metode kitaran/looping diharapkan untuk menghilangkan kesalahan yang disebabkan oleh pergeseran pembacaan gravity meter. Metode ini muncul dikarenakan alat yang digunakan selama melakukan pengukuran akan mengalami guncangan, sehingga menyebabkan bergesernya pembacaan titik nol pada alat tersebut.
PEMROSESAN DATA
Pemrosesan data
gayaberat yang sering disebut juga dengan reduksi data gayaberat, secara umum
dapat dipisahkan menjadi dua macam, yaitu: proses dasar dan proses
lanjutan. Proses dasar mencakup seluruh
proses berawal dari nilai pembacaan alat di lapangan sampai diperoleh nilai
anomali Bouguer di setiap titik amat.
Proses tersebut meliputi tahap-tahap sebagai berikut: konversi pembacaan
gravity meter ke nilai milligal, koreksi apungan (drift correction), koreksi pasang surut (tidal correction), koreksi lintang (latitude correction), koreksi udara bebas (free-air correction), koreksi Bouguer (sampai pada tahap ini
diperoleh nilai anomali Bouguer Sederhana (ABS) pada topografi.), dan koreksi
medan (terrain correction). Pemrosesan data tersebut menggunakan komputer
dengan software MS. Excel. Proses lanjutan merupakan proses untuk mempertajam
kenampakan/gejala geologi pada daerah penyelidikan yaitu pemodelan dengan
menggunakan software Surfer 8 dan
GRAV2DC. Beberapa koreksi dan konversi
yang dilakukan dalam pemrosesan data metoda gayaberat, dapat dinyatakan sebagai
berikut :
Pemrosesan data
gayaberat dilakukan terhadap nilai pembacaan gravity meter untuk mendapatkan
nilai anomali Bouguer. Untuk memperoleh
nilai anomali Bouguer dari setiap titik amat, maka dilakukan konversi pembacaan
gravity meter menjadi nilai gayaberat dalam satuan milligal. Untuk melakukan konversi memerlukan tabel
konversi dari gravity meter tersebut. Setiap gravity meter dilengkapi dengan tabel
konversi.
Cara melakukan konversi adalah sebagai
berikut:
- Misal hasil pembacaan gravity meter
1714,360. Nilai ini diambil nilai bulat sampai ratusan
yaitu 1700. Dalam tabel konversi (Tabel 3.1) nilai 1700 sama dengan 1730,844
mGal.
- Sisa dari
hasil pembacaan yang belum dihitung yaitu 14,360 dikalikan dengan faktor
interval yang sesuai dengan nilai bulatnya, yaitu 1,01772 sehingga
hasilnya menjadi 14,360 x 1,01772 = 14.61445 mGal.
- Kedua
perhitungan diatas dijumlahkan, hasilnya adalah (1730,844 + 14.61445) x
CCF = 1746.222 mGal. Dimana CCF (Calibration
Correction Factor) merupakan nilai kalibrasi alat Gravity meter
LaCoste & Romberg type G.525 sebesar 1.000437261.
Tabel Kutipan
contoh tabel konversi gravity meter type
G.525.
Pembacaan
Counter
|
Nilai Dalam
mGal
|
Interval
Faktor
|
1600
|
1629.070
|
1.01774
|
1700
|
1730.844
|
|
1800
|
1832.616
|
Email: seisxplore@gmail.com
Wordpress: seisxploresurvey.wordpress.com
HP: 082114266358
Jumat, 27 September 2013
ADVANCED GRAVITY DAERAH JAWA
kerangka Tektonik Pulau Jawa
Fisiografi dan konfigurasi tektonik kepulauan Indonesia masa kini yang komplek merupakan hasil interaksi sejak Neogen tiga lempeng litosfer utama, Lempeng Filipina yang bergerak (10 cm/th) ke arah NNW, lempeng Indo-Australia yang bergerak 8 cm/th ke arah NNE dan lempeng Eurasia yang stasioner yang bergerak jauh lebih lambat ke arah SE 4cm/th.
Berdasarkan karakteristik geologi dan geofisika, Simanjuntak dan Barber (1996) membagi wilayah kepulauan Indonesia menjadi 5 wilayah yaitu (1) wilayah tenggara lempeng Eurasia yang membentuk wilayah craton kontinental daratan sunda(Sundaland) yang meliputi Sumatera, Jawa Barat, dan Kalimantan Barat, (2) wilayah lempeng samudera Laut filipina di timurlaut, (3) wilayah craton benua Australia, keutara meliputi Irian Jaya dan Paparan Arafura dan Sahul, (4) wilayah lempeng samudera Hindia, (5) wilayah zona yang menandai zona interaksi lempeng masa kini dengan seismisitas yang aktif dan vulkanisme mulai dari bagian barat Sumatera, Jawa, kepulauan Nusa Tenggara dan Banda, Utara Irian melalui Sulawesi dan Maluku, kearah utara ke kepulauan Filipina. Di zona ini subduksi lempeng tetap aktif serta dicirikan oleh lempeng-lempeng mikrokontinen yang membentuk zona-zona tumbukan.
gambar .. Kerangka tektonik wilayah Kepulauan Indonesia( Simanjutak dan Barber)
gambar .. Tipe-tipe jalur orogen Neogen Indonesia
Interaksi lempeng-lempeng yang membentuk kepulauan Indonesia menghasilkan berbagai tipe jalur orogen. Simanjutak dan Barber ( 1996) mengenali enam tipe jalur orogen.
- Orogen Sunda di Jawa dan Nusa Tenggara : Melibatkan subduksi lempeng samudera dengan arah tegaklurus menghasilkan jalur orogen tipe andean beserta palung, komplek akresi, cekungan depan busur, busur magmatik dimana gunung api tumbuh di tepi kontinen sundaland
- Orogen Barisan di Sumatera: dengan arah konvergen miring sehingga menghasilkan sistem datar mendatar Sumatera pada busur magmatiknya, dan sepanjang sesar ini pula suatu segmen kerak kontinen bergerak ke arah utara di sepanjang bagian barat Sundaland
- Orogen Talaud di bagian utara laut Maluku: Konvergensi unsur magmatik Oceanic Sangihe dan Halmahera dengan lempeng laut Maluku.
- Orogen Sulawesi di Sulawesi Timur: tumbukan blok-blok mikrokontinen dengsn sistem subduksi di sepanjang tepi tumur sundaland.
- Orogen Banda di kepulauan Banda, di wilayah antara pulau Sumba dan Tanimbar: tumbukan antara tepi utara kontinen Australia dengan sistem subduksi di sepanjang bagian selatan busur Sunda.
- Orogen Melanesia di pulau Papua: suatau tahapan lebih lanjut tumbukan tepi utara kontinen Australia dengan busur magmatik pada lempeng laut Filipina yang dimulai pada Miosen awal.
Aktivitas orogen di sebagian besar jalur-jalur orogen ini dimulai pada kala Miosen tengah dan proses orogenik masih tetap berlangsung sampai sekarang.
Pembagian kepulauan Indonesia menjadi 6 tipe jalur orogen di atas menunjukan pulau jawa merupakan pulau utama yang penting di Indonesia bgaian barat di samping pulau Sumatera dan Kalimantan. memahami perkembangan tektonik pulau Jawa berarti mengetahui bagian utama dari tektonik Inndonesia bagian barat. Tataan tektonik pulau Jawa yang menunjukan ciri khas produk interaksi konvergen antara lempeng samudera dan lempeng benua. Lempeng samuderanya adalah lempeng Indo-Australia yang bergerak ke uatara dan menunjam di bawah lempeng benuanya yakni lempeng Eurasia yang relatif stabil dan disini diwakili oleh paparan Sunda. Pertemuan lempeng ini menghasilkan busur vulkanik busur dan jalur penunjaman, atau palung dan telah berlangsung sejak zaman akhir kapur-paleosen(100-52 juta tahun).
Struktur Regional Pulau Jawa
Jalur penunjaman kapur-paleosen yang ditunjukan oleh singkapan batuan kompek melange Luk-Ulo-karangsambung (Asikin, 1974; Hamilton, 1974; Suparka; 1988; Parkinson et al., 1998) mempunyai arah umum struktur TL-BD yang mengarah ke arah pegunungan Meratus di ujung tenggara Kalimantan. Pulunggono dan Martodjojo (1994) mengenai tiga arah struktur utama di pulau Jawa: Arah timurlaut-Baratdaya atau pola Meratus, arah utara-selatan atau pola Sunda, dan arah timur-barat atau pulau Jawa. Disamping tiga arah struktur utama ini, masih terdapat satu arah strutkur utama lagi, yaitu arah baratlaut-tenggara yang disebut pola Sumatera (Satyana, 2007). Pola Meratus dominan di kawasan lepas pantai utara, ditunjukan oleh ketinggian-ketinggian karimunjawa, Bawean, Masalembo dan pulau Laut( Guntoro, 1996). Di pulau Jawa arah ini terutama ditunjukan oleh pola struktur batuan tersier di daerah Luk Ulo, kebumen Jawa Tengah. Pola Sunda yang berarah utara selatan umum terdapat di lepas pantai utara Jawa barat dan di daratan di bagian barat wilayah jawa barat. Arah ini tidak nampak di bagian timur pola Meratus. Pola jawa yang berarah timur barat merupakan pola yang mendominasi daratan pulau jawa, baik struktur sesar maupun struktur lipatanya.
Di Jawa Barat pola diwakili oleh sesar Baribis, serta sesar sungkup dan lipatan di dalam Zona Bogor. Di jawa Tengah sesar sungkup dan lipatan di Zona Serayu utara dan serayu selatan mempunyai arah hampir barat-timur. Di Jawa Timur pola ini ditunjukan oleh sesar-sesar sungkup dan lipatan do zona Kendeng. Struktur arah Sumatera terutama terdapat di wilayah jawa barat dan di jawa tengah bagian timur struktur ini sudah tidak tampak lagi.
gambar 1 Pola struktur di Pulau Jawa berupa pola Meratus, pola Sunda dan arah Timur-Barat( Sujanto dan Sumantri, 1977 dalam natalia dkk, 2010)
gambar ,,, Pola struktur dan sesar di pulau Jawa( Natalia dkk, 2010)
gambar 3 Anomaly Bouguer daerah Jawa
gambar 4 Daerah fokus study advanced gravity
gambar 5 slice surface anomaly bouguer
gambar 3-a slice surface anomaly bouguer
gambar 6 section 2D surface anomaly bouguer
gambar 7-a 3-D view anomaly bouguer fokus study
gambar 7-a 3-D view anomaly bouguer fokus study
gambar 8 Data Regional Upward Continuation 15000m
Email: seisxplore@gmail.com
Wordpress: seisxploresurvey.wordpress.com
HP: 082114266358
Langganan:
Postingan (Atom)




















































